Kemacetan di Kota Bandung

Image result for kemacetan di cihampelas bandung
Cihampelas Walk Bandung

  Kota merupakan pusat dari segala kegiatan seperti pusat industri, pusat pendidikan, pusat perdagangan, pusat hiburan, pusat pemerintahan dan lain sebagainya. Perkembangan kota sebagai satuan wilayah pemukiman dari waktu ke waktu terus meningkat, hal ini disebabkan karena pusat-pusat kegiatan tersebut telah menjadi faktor penarik (Pull Factors) bagi para penduduk desa untuk bermigrasi ke kota. 

   Saat ini kota-kota di Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang pesat di segala bidang dan memunculkan berbagai dampak masalah perkotaan, seperti masalah transportasi. Salah satu contohnya yaitu Kota Bandung, Bandung sebagai Ibu Kota daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat dulu pernah dijuluki ”Paris Van Java”. Kota indah sejuk dan nyaman. Namun beberapa tahun terakhir ini kenyamanan tersebut telah terganggu dan terusik karena kemacetan lalu lintas yang sering terjadi antara lain penyebab kemacetan ini adalah karena jumlah kendaraan pribadi menunjukkan penigkatan yang semakin pesat. Menurut kepala Subdin lalu lintas dan angkutan Dinas Perhubungan, Kota Bandung, (PR. 31 Desember 2007) di jelaskan, saat ini jumlah kendaraan pribadi di Bandung sudah 751.000 unit, dengan 59 % diantaranya sepeda motor. Padahal panjang jalan raya yang ada di Kota Bandung hanya untuk 320.000 kendaraan saja. Pada hari libur jumlah kendaraan itu bisa bertambah 38.000 sampai 125.000, dari kendaraan wisatawan yang masuk ke Kota Bandung. 

Jumlah kendaraan yang masuk ke kota Bandung paling banyak masuk dari pintu Tol Pasteur. Kemacetan sering terjadi di jalan Pasteur menuju jalan pasirkaliki dan sukajadi, selain di ruas jalan tersebut, kepadatan juga terjadi di sejumlah ruas jalan tempat belanja (Factory Otlet) dan tempat jajanan seperti di jalan RE Martadinata (Riau), jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Jl. Dr. Setiabudi (Ledeng) dan Cihampeulas. Selain banyaknya warga dari Kota yang berbelanja di Kota Bandung masyarakat Kota Bandung sendiri yang juga hendak berbelanja atau melakukan aktivitas lain.  

   Kemacetan dapat menyebabkan banyak kerugian terhadap para pengguna jalan. Dampak kemacetan lalu lintas antara lain adalah  pemborosan waktu serta menimbulkan polusi udara.
Kemacetan juga menyebabkan laju kendaraan menjadi lambat dan pembakaran pun menjadi lama, pembakaran yang lama akan menghasilkan karbondioksida sehingga akan menimbulkan polusi udara yanng semakin banyak. Karbondioksida mengandung racun yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat sehingga produktivitas menurun. Bila produktivitas menurun maka perekonomian juga akan terganggu.
  Dapat disimpulkan kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan dampak-dampak negatif, antara lain :

a.Kerugian waktu karena kecepatan yang rendah.
b.Pemborosan energi.
c.Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal.

 Beberapa solusi  atas permasalahan ini :
1. Penerapan Electronic Road Pricing (ERP).
   
   Teknologi ERP menerapkan skema pembayaran secara elektronik bagi pemilik kendaraan pribadi. Mereka yang memasuki pusat kota pada hari kerja, antara pukul 06.30 dan 18.30, akan dikenakan biaya dengan nominal tertentu. Selain "membasmi" kepadatan jalan, penerapan biaya pada sistem tersebut turut meningkatkan pendapatan harian jalan tol. Keuntungan itu kemudian menjadi dana berputar yang dipakai untuk memperbaiki fasilitas jalan dan pembayaran agar terus berjalan.

2. Teknologi Sydney Coordinated Adaptive Traffic System (SCATS). 

    Kamera dan sensor ditempatkan pada jalan-jalan raya untuk menghitung jumlah kendaraan serta mengatur lampu lalu lintas melalui data center terpusat. Saat terjadi kemacetan, lampu hijau akan menyala lebih lama agar kendaraan tidak berhenti dan menumpuk. Sebaliknya, waktu nyala lampu hijau segera kembali normal bila jalanan kosong.

3. Integrative Public Transport .

    Integrative Public Transport Model yang mengintegrasikan akses tiga jenis kendaraan umum sekaligus. Pengguna dapat melihat berbagai informasi, seperti tiket, waktu kedatangan kendaraan, dan tujuan keberangkatan, dalam satu aplikasi ponsel atau melalui pesan singkat. Sistem tersebut juga menginformasikan keberadaan halte bus terdekat serta fasilitas parkir yang tersedia. Selain itu, fitur sinyal radio dan GPS pada Integrative Public Transport Model memungkinkan bus datang sesuai kebutuhan penumpang. Alhasil, integrasi angkutan umum tersebut mampu mengurangi penggunaan mobil pribadi secara signifikan. Merujuk ada sumber yang sama diWorld Economic Forum, pengurangan terlihat dari adanya penurunan emisi CO2 sebesar 83 persen.

4. Intelligent Transportation System.

Teknologi ini mirip seperti Google Maps, yang jika digunakan pengendara dapat berfungsi untuk mengantisipasi jebakan kemacetan. Teknologi ITS ini diklaim memicu efisiensi penggunaan jalan hingga naik 10%, mengurangi energi terbuang 30%, mengurangi waktu perjalanan 15%, dan mengurangi polusi hingga 30%. Namun masalahnya, biaya untuk pemasangan alat ITS ini sangat mahal. Semakin waktu berkembang, sedikitnya ada tiga servis dasar yang dilakukan dalam ITS yakni panduan rute dinamis, dukungan keselamatan pengemudi di jalan raya melalui vehicle information and communication system (VICS) dan electronic toll collection system (ETC). ITS akan menyediakan data jalan yang dikumpulkan langsung dari berbagai sensor jalan administrator baik melalui detektor kendaraan, kamera CCTV, anemometer, telepon darurat, dan mobil patroli.

5. Street Eye.
“Street Eye”. Yaitu memasang cctv di setiap persimpangan jalan besar yang terhubung dengan kontrol pusat. Gunanya untuk menetahui setiap aktifitas dipersimpangan jalan secara realtime. Setiap jalur di persimpangan jalan pasti memiliki kepadatan yang berbeda beda, tetapi lampu lalu lintas atau biasa disebut lampu merah biasanya ber operasi dengan cara memprogramnya mengatur menit yang sama di setiap jalur persimpangan jalan dengan durasi lampu berhenti dan jalan itu sama setiap jalur di persimpangan.
Dengan adanya cctv di setiap persimpangan lampu lalu lintas, bisa terlihat secara real time jalur mana yang lebih padat dan lebih lenggang. Dengan seperti itu pengaturan untuk durasi berhenti dan jalan disetiap jalur bisa di sesuaikan dengan tingkat kepadatan jalur tersebut. Contohnya jika salah satu jalurnya lenggang atau tidak banyak kedaraan yang melintas, maka durasi lampu lalu lintasnya bisa diberikan durasi lebih lama pada berhentinya atau lampu merahnya dibandingkan durasi jalannya atau lampu hijau. Sebaliknya jika salah satu jalurnya padat bisa diberikan durasi lampu jalan atau lampu hijau lebih lama.

Demikian beberapa pemakaian teknologi yang bisa menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung.

 Atas perhatiannya, saya mengucapkan terima kasih.




Komentar